Tidak ada catatan pasti mengenai berdirinya Desa
Gambarsari, namun Desa Gambarsari diperkirakan berdiri pada abad ke-19. Konon
ceritanya pada zaman dahulu di wilayah pulau Kesultanan Kartosurodiningrat.
Sultan Amangkurat Mas memiliki kehidupan masyarakat yang berjalan aman,
tentram, damai, adil dan bijak. Kehidupan masyarakat yang seperti itu membuat
penjajah Belanda tidak menyukainya sehingga penjajah Belanda berusaha
memecahbelah kondisi tersebut dengan dibant oleh Trunajaya. Pemberontakan
tersebut membuat Sultan Amangkurat Mas
terdesak sehingga Sultan Amangkurat Mas melarikan diri ke arah barat dengan
didampingi oleh beberapa punggawanya.
Sultan Amangkurat Mas dan para punggawanya kemudian
singgah di daerah pegunungan yang masih lebat. Sekarang, pegunungan tersebut
dikenal dengan Desa Kalisalak. Ketika sedang beristirahat, Sultan Amangkurat
Mas mendengar kabar bahwa Belanda dan Trunajaya sudah mendekat. Sultan
Amangkurat Mas segera bergegas meninggalkan wilayah tersebut dengan
tergesa-gesa. Hal tersebut mengakibatkan beberapa barang dan peralatan perang
Sultan Amangkurat Mas tertinggal di wilayah tersebut. Barang peninggalan itu
kemudian dirawat oleh masyarakat Desa Kalisalak hingga sekarang. Tradisi
merawat barang peninggalan Sultan Amangkurat Mas disebut dengan nama Jimatan
Kalisalak.
Sultan Amangkurat Mas kembali melarikan diri ke arah barat
laut dan singgah di tempat yang bernama Tanah Raja. Setelah beristirahat dengan
cukup, Sultan Amangkurat Mas melanjutkan perjalanannya kembali dan turun ke
lembah yang banyak pepohonan dan angker. Lokasi tersebut dikenal dengan Gunung
Brojol. Sultan Amangkurat Mas memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon
ketos dan melepaskan baju Antrakusuma (baju kebesaran Kraton). Sembari
beristirahat, Sultan Amangkurat Mas berpikir dan menggambar bagaimana caranya
agar dapat melewati kedung/sungai yang lebar. Sultan Amangkurat Mas berkata “manakala
ada rejaning jaman kedung ini saya namakan Kedung Gambar” dan sampai saat ini
dikenal dengan sebutan Kedung Gambar/Gambarsari”.
Sultan Amangkurat Mas mendengar laporan bahwa pasukan Trunajaya sudah mendekat, kemudian Sultan Amangkurat Mas menyebrangi kedung/sungai tersebut tanpa mengkondisikan pasukannya. Sultan Amangkurat Mas berhasil menyebrangi kedung/sungai tersebut tanpa membawa baju dan peralatan perangnya. Hingga saat ini, baju dan peralatan perangnya dirawat oleh masyarakat Desa Gambarsari dengan cara melakukan penjamasan setiap tahun.
ditulis dan dipublikasikan oleh Ninda Vani Lestari, S.E